Modest Of Fashion Project (MOFP)

By Administrator 27 Okt 2021, 10:05:22 WIB Osis
Modest Of Fashion Project (MOFP)

Gambar : Modest Of Fashion Project (MOFP)


Santriwati dan siswa SMK NU Banat Kudus Dewi Rosita Alamanda berhasil masuk 10 besar di Modest Of Fashion Project (MOFP) yang diselenggarakan Kementrian Perindustrian RI. Pakaian muslimahnya terinspirasi dari tenun Mamoli dari Sumba yang dipakai istri Jokowi Iriana. Atas raihan itu ia berhak studi fashion gratis di Lasalle (Jaringan LCI Education yang berasal dari Kanada).

DEWI sapaan akrabnya. Di ajang perlombaan MOFP pada 25 September lalu dirinya berkesempatan ikut berkompetisi. Membuat pakain muslimah. Idenya mengadopsi tenun Mamoli yang dikolaborasikan dengan kain drill.

Konsep tersebut didapatkan siswi asal Kabupaten Nganjuk berawal dari membaca dan melihat berita. Pada saat itu dirinya melihat istri Presiden Jokowi, Iriana mengenakan tenun Mamoli dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Penampilan Ibu Iriana tampak anggun.

”Konsepnya lebih pada untuk menjunjung tinggi derajat wanita,” kata siswi yang duduk di bangku kelas XII SMK NU Banat Kudus itu.

Perpaduan kain drill dengan tenun Mamoli dirasa pas Dewi. Sebab karakter kain memiliki ketebalan yang sama.

Proses menuju ke babak 10 besar, Dewi harus melalui seleksi awal. Ia mengirimkan desain karya baju muslimahnya. Tahap selanjutnya ia lolos ke babak 20 besar dan harus merealisasikan satu desainnya menjadi baju.

Pada babak 10 besar, Dewi harus kembali merealisasikan desainnya menjadi baju siap pakai. Saat itu ia dituntut menyelesaikan enam buah style baju. Dalam pengerjaannya dirinya membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan pengerjaannya dikerjakan oleh dirinya bersama dengan tim.

Di sisi lain, dalam proses pembuatan desainnya, dirinya juga harus bisa menyesuaikan dengan kegiatan di pondok pesantren. Waktu magrib hingga setelah isya dipergunakan untuk ngaji. Selanjutnya pada pukul 21.00 dipergunkan Dewi untuk belajar maupun mendesain.

”Saya adalah peserta berstatus santriwati dan siswa sendiri. Saingannya adalah pengusaha maupun desainer ternama,” katanya.

Hasil yang ia dapat tersebut sangat disyukuri oleh Dewi. Sebab karyanya itu mampu bersaing dengan desainer ternama. Di sisi lain, ia yang masuk dalam 10 besar akan mendapatkan studi fashion gratis di Lasalle selama dua tahun.

”Setelah lulus dari SMK rencana saya ambil dulu studi di Laselle, lumayan bisa menambah ilmu dan pengalaman,” terangnya.

Di SMK NU Banat, kata Dewi punya style berbeda dalam menciptakan sebuah baju muslimah. Salah satunya mengedapankan unsur sesuai syariat islam. Tiap busana tidak diperkenankan menunjukkan bentuk lekuk pada bagian tubuh.

Sementara itu, Guru Busana SMK NU Banat Lilik Muflikah mengatakan dalam perealisasian baju muslimah ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Karya siswa harus dikurasi terlebih dahulu oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

”Karya itu dilihat dulu apakah sudah sesuai dengan unsur agama Islam apa belum. Selanjutnya dikurasi beberapa guru matematika untuk menentukan harga produksi maupun jualnya nanti,” tambahnya.

Hasil karya buatan siswi itu menggunakan ukuran over size, tentunya bisa dikenakan oleh beragam ukuran. Sementara hasil karya siswi biasanya di jual di butik milik sekolah Zelmira.
Dirinya berharap, mampu mencetak lulusan sesuai visi dan misi sekolah unggul, islami, dan populis. Sekaligus mencetak wirasusaha dan bekerja sesuai dengan bidangnya.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment